Senin, 09 Februari 2009


SEBUAH EVALUASI tentang CINTA

"Cinta adalah jatan pintas menuju perubahan.
Betapa banyak jiwa yang berubah menjadi baik disebabkon oleh cinta.
Berapa banyak akal yang terhenti dikarenakan oleh cinta.

INI MUNGKIN kesekian kali per kataan Jasm Badr Al Muthawwi' diangkat Al Izzah menjadi prolog. Dalam beberapa hal ungkapan tersebut terasa masih relevan untuk melukiskan dunia cinta yang tejadi dialam ini. Banyak manusia telah berubah disebabkan oleh cinta. Ada yang berubah menjadi baik, seperti orang yang berpindah dari kegelapan menuju cahaya. Tetapi ada pula yang menjadi gila, tak ubahnya bagai melangkah menuju kegelapan dari dunia terang benderang.
Cinta, telah menjadi jalan pintas menuju perubahan yang sukses dan bemilai positif jika selalu disandarkan kepada Allah SWT. Cinta pasti berbuah semangat yang memicu mobilitas seseorang dalam beramal shalih. Bukan hanya sekedar terlihat dari kuantitas amal shalih tersebut tetapi juga pada kualitasnya. Sebagaimana orang yang sedang kasmaran -¬tentunya dalam konteks yang Positif , kerinduan yang menggebu membuatnya ingin selalu bertemu. Dan apabila bertemu ia ingin mempersembahkan yang terbaik untuk kekasihnya itu.
Pengorbanan dalam cinta menjadi sesuatu yang wajar. Sebab pengorbanan merupakan resiko keimanan dan ujian cinta yang menuntut pembuktian. Berani berkorban berarti berani mencintai kesulitan dan rin¬tangan. Orang orang yang penuh gelora cinta dan keimanan menganggap rintangan dan kesulitan adalah hal yang harus ia cintai sama dengan ia men¬cintai kenikmatan dan kese¬nangan. Bahkan kesulitan dan rintangan itu menjadi tali pecut yang mampu membangkitkan jiwa dan menggerakkannya dengan kekuatan yang dahsyat. Harta dan jiwa raga serta segala macam pengorbanan menjadi sebuah konsekuensi yang logis bagi orang yang sudah gila cinta. Karena itu, besar dan kecilnya pengorbanan seorang mukmin juga menjadi tolak ukur sebe rapa besar cinta, dan keimanannya kepada Allah dan Rasul Nya
"Cinta adalah jalan pintas menuju Perubabn. " Kalimat ini mengingatkan kita kepada para sahabat Rasulullah saw. Mereka dahulu adalah para penyembah berhala, api, harta, hawa nafsu dan apa saja selain Allah SWT Namun, seorang yang penuh cinta diutus oleh Allah SWT kepada mereka agar mereka bisa mengenal kebesaran cinta Zat yang menciptakan diri mereka clan alam semesta ini dan meng¬esakan cinta. itu. Rasulullah saw berhasil menanarnkan ruhul 'mahabbah ke dalam jiwa para sahabat. Ruhul mahabbah yang bersatu dengan ruhul iman dimana kedua terus menyertai denyut hati, langkah ~aki dan ketajaman akal mereka.

Cinta, Aneh tap! Nyata
Aneh tapi nyata, persoalan cinta kadang ticlak seturnit clan sedahsyat itu. jika para Sahabat Rasulullah membuktikan cinta dalam konteks yang sangat luas dan bermanfaat. Anehnya, zaman kita menghadirkan kisah cinta instan yang tidak serumit paparan di atas. Namun fakta¬nya seluruh baclan clan jiwa tera¬sa tak berdaya melawan arusnya.
Cinta dipersepsikan seke¬dar ketertarikan "Aku Suka Kamu" dan "Kamu suka Aku" yang bisa dijajakan di sembarang tempat, di setiap waktu dan di hadapan siapa saja. Seorang gadis yang mendengar kalimat itu, langsung memberikan segala yang dimilikinya. Sebuah pe¬ngorbanan lucu dan naif untuk sesuatu yang bernama cinta. Begitu pun dengan seorang lelaki yang kalimat perasaannya ter¬balas, lalu berhak menjelajah aurat yang bukan haknya. Meski itu diawali hanya sebuah pe¬gangan tangan.
Cinta bisa juga muncul tidak berdasarkan pertimbangan yang lengkap. "Cinta tumbuh karena. sering bertemu", "yang penting wajah, yang lain bisa menyusul kemudian", "Abis orang kaya sih, kapan lagi ada kesempatan peningkatan status sosial", "aku pilih kau karena titel dokter" dan lain lain. Motif duniawi menjadi terdepan. la mengalahkan impian tentang surga abadi dan keridhaan Tuhan. Pertanyaannya, apa yang tersisa jika waktu dunia berlalu? la memakan kecantikan, me¬nelan harta dunia, merobek nilai kebanggaan duniawi dan mate¬rialistik. Mau apa kalian? Me¬ninggalkan dunia, tanpa impian surga abadi dan keridhaan Allah. Ah, itu terlalu berani!

Pahitnya Sebuah Evaluasi
Sayangnya, virus ini juga menghinggapi tubuh tubuh tegap pemuda pemudi dakwah. Persoalan cinta yang seharusnya bisa bermanfaat, malah merusak seluruh jaringan tubuh, syaraf otak dan urat hatinya. Padahal apa yang kurang dari dakwah? Di dalamnya ada wajah Allah SWT yang Agung dan Kekal. Ada keindahan Islam dengan taman bunga ajarannya yang indah. Ada ukhuwah dan kasih sayang persaudaraan yang mempesona setiap jiwa. Ada jerih payah dan kumpulah debu yang dihargai setinggi langit. Ada tangisan dan darah yang ber¬hadiah surga. Apa lagi yang kurang dari dakwah?!
Kenapa harus berpaling darinya? Hanya karena cinta se¬sederhana itu. Kenapa harus mencuri kesempatan, mencari kesenangan sesaat? Kalau Allah telah memberikan yang terbaik untukmu. Kenapa harus khawa¬tir, lalu frustasi? Tahukah engkau dunia itu kecil, hina dan fana.
”Mbak, ana takut kehi¬langan dia."
"Ada apa dengan anti?"
"Kami telah melakukan hal jauh di luar batas. "
Sebuah pukulan menyakit¬kan! Mengapa itu bisa terjadi di saat engkau telah mendapat hidayah? Mengapa tidak engkau tuntaskan maksiatmu dulu lalu engkau bertaubat dan mati?! Itu mungkin lebih baik. Ketimbang engkau hancurkan bangunan akhlak islam yang telah engkau susun begitu lama agar bisa me¬nikmati keindahannya. Engkau tak ubahnya seperti seorang nenek yang menjahit tenunan di malam hari, lalu menghancur¬kannya keesokan hari (dari Al¬hadist).
Akhi ukhti, cinta itu hal yang sepele. Seorang penulis pernah berkata, "Jangan terlalu sering bermimpi Sukab, belajarlah berbahagia dengan apa yang kamu miliki saja. Cinta adalah soal yang biasa menjadi pelik, tapi ia juga bisa menjadi begitu sederhana, kalau kamu bisa belajar hidup dengan apa adanya." (Seno Gumira Ajidarma, Dunia Sukab). Jangan sampai masalah sesepele ini malah menghancurkan bangunan kepribadian dakwah kita.
Jadi, masalah cinta bagi kita sudah jelas. Jalan, arah, dan substansinya juga jelas. Tinggal kita menjelaskan pada diri sendiri, bahwa persoalan cinta ini telah jelas?! Evaluasi ini berakhir disins. Wallahu a'lam.




Naik Marhalah dengan Cinta

Jatuh cintalah, ketlka cinta Itu bernila jalan untuk mengeksiskan kedudukan dakwah kita. Akan tetapi jangan berfikir jatuh cinta jika ia hanya menyebabkan kegelilsahan, keresahan yang mendorong kepada perbuatan sia sia dan maksiat kepada Allah.

SUATU ketika, dalam majelis ko¬ordinasi, seorang akhwat berkata kepada mas'ul dakwahnya "Akhi, ana gak bias lagi berinteraksi dengan akh Fulan." Suara akhwat itu bergetar. Nyata sekali ia menekan perasaannya. "Pekan lalu, ikhwan tersebut membuat pengakuan yang membuat ana merasa risi, dan... Afwan, terus terang juga tersinggung. " Sesaat kemudian suara dibalik hijab itu timbul tenggelam. "ikhwan itu mengatakan... ia jatuh cinta pada ana."
Mas'ul tersebut terkejut, tapi ditekannya getar suaranya. la berusaha tetap tenang. "Sabar ukhti, jangan tertalu diambil hati. Mungkin maksudnya tidak seperti yang anti bayangkan," Sang mas'ul mencoba mene¬nangkan, terutarna untuk dirinya sendiri.
"Afwan... ana tidak menangkap maksud lain dari perkataannya. lkhwan itu mungkin tidak pernah berfikir dampak perkataannya. Kata¬-kata itu membuat ana sedikit banyak merasa gagal menjaga hijab ana, gagal menjaga komitmen, dan menjadi pe¬nyebab fitnah. Padahal, ana hanya berusaha menjadi bagian dari perputaran dakwah ini." Sang akhwat kini mulai tersedak terbata.
"Ya sudah... Ana berharap anti tetap istiqomah dengan kenyataan ini, ana tidak ingin kehilangan tim dakwah oleh permasalahan seperti ini." Mas'ul itu membuat keputusan, "ana akan ajak bicara langsung akh Fulan."
Beberapa waktu berlalu, ketika akhimya Mas'uI tersebut mendatangi Fulan yang ber¬sangkutan. Sang Akh berkata "Ana memang menyatakan hal tersebut, tapi apakah itu satu kesalahan?"
Sang Mas'ul berusaha menanggapinya searif mungkin. "Ana tidak menyalahkan perasaan antum. Kita semua berhak memiliki perasaan itu. Pertanyaan ana adalah, apakah antum sudah siap ketika me¬nyatakan perasaan itu. Apakah anturn mengatakannya dengan orientasi bersih yang menjamin hak hak saudari antum. Hak perasaan dan hak pembina¬annya. Apakah antum me¬nyampaikan ini kepada pembina antum untuk diseriuskan. Apakah antum sudah siap berkeluarga. Apakah anturn sudah berusaha menjaga kemungkinan fitnah dari per¬nyataan anturn, baik terhadap ikhwah lain maupun terhadap dakwah???" Mas'ul tersebut membuat penekanan substan¬sial. "Akhi... bagi kita perasaan itu tidak semurah tayangan sinetron, atau bacaan picisan dalam novel novel. Bagi kita perasaan itu adalah bagian dari kemuliaan yang Allah tetapkan untuk pejuang dakwah. Perasaan itulah yang melandasi ekspansi dakwah dan jaminan kemuliaan Allah SWT. Perasaan itulah yang mengeksiskan kita dengan beban berat amanah ini. Maka jagalah perasaan itu tetap suci dan mensucikan".

Cinta Aktivis Dakwah
Bagaimana ketika perasaan itu hadir. Bukankah ia datang tanpa pernah diundang dan dikehendaki?
Jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukanlah perkara sederhana. Dalam konteks dakwah, jatuh cinta adalah gerbang ekspansi pergerakan. Dalam konteks pembinaan, jatuh cinta adalah naik marhalah pembinaan. Dalam konteks keimanan, jatuh cinta adalah bukti ketundukan kepada sunnah Rasulullah saw dan jalan meraih Ridho Allah SWT.
Ketika aktivis dakwah jatuh cinta, maka tuntas sudah urusan prioritas cinta. Jelas, Allah, Rasulullah, dan jihad fii sabilillah adalah yang utarna. Jika ia ada dalam keadaan tersebut, maka berkahlah pera¬saannya, berkahlah cintanya, dan berkahlah amal yang terwujud oleh perasaan cinta tersebut. Jika jatuh cintanya tidak dalam kerangka tersebut, maka cinta menjelma menjadi fitnah baginya, fitnah bagi ummat, dan fitnah bagi dakwah. Karenanya jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukan perkara sederhana.
Ketika ikhwan mulai tergetar hatinya terhadap akhwat, dan demikian sebalik¬nya, ketika itulah cinta ‘Iain’ muncul dalam dirinya. Cinta inilah yang kita bahas kali ini. Yaitu sebuah karunia dari kelembutan hati dan perasaan manusia. Suatu karunia Allah yang membutuhkan bingkai yang jelas. Sebab terlalu banyak pengagung cinta ini yang kemudian menjadi hamba yang tersesat. Bagi aktivis dakwah, cinta lawan jenis, adalah perasaan yang lahir dan tuntutan fitrah, tidak lepas dari kerangka pembinaan dan dakwah. Suatu perasaan produktif yang dengan
Indah dikemukakan oleh ibunda Kartini, "...akan lebih banyak lagi yang dapat saya kerjakan untuk bangsa ini, bila saya ada disamping seorang laki laki yang cakap... lebih banyak kata saya...daripada yang dapat saya usahakan sebagai perempuan yang berdiri sendiri...
Cinta memiliki dua mata pedang. Satu sisinya adalah rahmat dengan jaminan kesempurnaan agama, dan sisi lainnya adalah gerbang fitnah dan kehidupan yang sengsara. Karenanya jatuh cinta membutuhkan kesiapan dan persiapan. Bagi setiap aktivis dakwah, bertanyalah dahulu kepada diri sendiri, sudah siapkah jatuh cinta? Jangan sampai kita lupa, bahwa segala sesuatu yang melingkupi diri kita, perkataan, perbuatan, maupun perasaan, adalah bagian dari deklarasi nilai diri sebagai generasi dakwah. Sehingga umat selalu mendapatkan satu hal dari apapun pentas kehidupan kita, yaitu kemuliaan Islam dan kemuliaan kita karena me¬muliakan Islam.

Deklarasi Cinta
Sekarang adalah saat yang tepat bagi kita untuk men¬deklarasikan cinta di atas koridor yang bersih. Jika proses dan seruan dakwah senantiasa mengusung pembenahan kepri¬badian manusia, maka layaklah kita tempatkan tema cinta dalam tempat utama. Kita sadari kerusakan prilaku generasi hari ini, sebagian besar dilandasi oleh salah tafsir tentang cmta. Terlalu. banyak penyimpangan terjadi, karena cinta di dewakan, dan. dijadikan kewajaran melakukan pelanggaran. Dan tema tayangan pun mendeklarasikan cinta yang dangkal. Hanya ada cinta untuk sebuah persaingan, sengketa, dan eksploitasi kefujuran manusia. Sementara cinta untuk sebuah kemuliaan, kerja keras dan pengorbanan, serta. jem¬batan jalan ke Surga dan kemuliaan Allah, tidak pernah mendapat tempat di sana.
Sudah cukup banyak pentas kejujuran kita lakukan. Sudah berbilang jumlah pengakuan keutamaan kita, buah dakwah yang kita gagas. Sudah banyak potret keluarga baru dalam masyarakat yang kita tampilkan. Namun berapa banyak deklarasi cinta yang sudah kita nyatakan. Cinta masih menjadi topik 'asing' dalam dakwah kita. Wajah, warna, ekspresi, dan nuansa cinta kita masih terkesan 'misteri'. Pertanyaan sederhana "Gimana sih, kok kamu bisa nikah dengannya, padahal kan baru kenal. Emang kamu cinta sama dia?", dapat kita jadikan indikator miskinnya kita mengkampanyekan cinta. suci dalam dakwah ini.
Pernyataan 'Nikah dulu Baru Pacaran' masih menjadi jargon yang menyimpan pertanyaan misteri, "Bagaimana caranya, emang bisa? ". Sangat sulit bagi masyarakat kita untuk mencerna dan memahami logika jargon tersebut. Terutama karena konsumsi informasi media tayangan, bacaan, diskusi, dan interaksi umum, sama sekali bertolak belakang dengan jargon tersebut.
Inilah salah satu alasan penting dan mendesak untuk mengkampanyekan cinta dengan wajah yang berbeda. Memberikan alternatif bagi masyarakat untuk melihat cinta. denganwujudyangbaru. Cinta yang lahir sebagai bagian dari penyempurnaan status hamba. Cinta yang diberkahi karena taat kepada Sang Penguasa. Cinta yang menjaga diri dari penyimpangan, penyelewengan, dan perbuatan ingkar terhadap nikmat Allah yang banyak. Cinta yang berorientasi bukan sekedar jalan berdua, makan, nonton, dan seabrek romantika yang berdiri di atas pengkhia¬natan terhadap nikmat, rezki, dan amanah yang Allah berikan kepada kita.
Kita ingin lebih dalam menjabarkan kepada masyara¬kat tentang cinta ini. Sehingga masyarakat tidak hanya men¬dapatkan hasil akhir keluarga dakwah. Biarkan mereka paham tentang perasaan seorang ikhwan kepada akhwat, tentang perhatian seorang akhwat kepada ikhwan, tentang cinta ikhwan akhwat, tentang roman¬tika ikhwan akhwat, dan tentang landasan dan kemana cinta itu bermuara. Inilah agenda topik yang harus lebih banyak di buka dan diben¬tangkan. Dikenalkan kepada masyarakat berikut mekanisme yang menyertainya. Paling tidak gambaran besar yang me¬nyeluruh dapat dinikmati oleh masyarakat, sehingga mereka bisa mengerti bagaimana proses panjang yang menghasilkan potret keluarga dakwah hari ini.

Epilog
Setiap kita yang mengaku putra putri Islam, setiap kita yang berjanji dalam kafilah dakwah, setiap kita yang meng¬ikrarkan Allahu Ghoyatuna, maka jatuh cinta dipandang sebagai jalan iihad yang menghantarkan diri kepada cita cita tertinggi, syahid fii sabilillah. Inilah perasaan yang istimewa. Perasaan yang menempatkan kita satu tahap lebih maju . Dengan perasaan ini, kita mengambil jaminan kemuliaan yang ditetapkan Rasulullah. Dengan perasaan ini kita memperluas ruang amanah dakwah kita. Dengan perasaan inilah kita naik marhalah dalam dakwah dan pembinaan.
Betapa Allah sangat me¬muliakan perasaan cinta orang-¬orang beriman ini. Dengan cinta itu mereka berpadu dalam dakwah. Dengan cinta itu mereka saling tolong menolong dalam kebaikan. Dengan cinta itu juga mereka menghiasi bumi dan kehidupan di atasnya. Dengan itu semua Allah berkahi nikmat tersebut dengan lahimya anak anak shaleh yang mem¬beratkan bumi dengan kalimat Laa Ilaaha illallah. Inilah potret cinta yang sakinah, mawaddah, warahmah.
Jadi... sudah beranijatuh Cinta ... ?
Wallahu'alam.

puisi dakwah
Jalan dakwah panjang terbentang jauh ke depan
Duri dan batu terjal selalu mengganjal, lurah dan bukit menghadang
Ujungnya bukan di usia, bukan pula di dunia
Tetapi Cahaya Maha Cahaya, Syurga dan Ridha Allah
Cinta adalah sumbernya, hati dan jiwa adalah rumahnya
Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu
Nikmati perjalannya, berdiskusilah dengan bahasa bijaksana
Dan jika seseorang mendapat hidayah karenamu
Itu lebih baik dari dunia dan segala isinya…

Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu
Jika engkau cinta maka dakwah adalah faham
Mengerti tentang Islam, Risalah Anbiya dan warisan ulama
Hendaknya engkau fanatis dan bangga dengannya
Seperti Mughirah bin Syu’bah di hadapan Rustum Panglima Kisra

Jika engkau cinta maka dakwah adalah ikhlas
Menghiasi hati, memotivasi jiwa untuk berkarya
Seperti Kata Abul Anbiya, “Sesungguhnya sholatku ibadahku, hidupku dan matiku semata bagi Rabb semesta”
Berikan hatimu untuk Dia, katakan “Allahu ghayatuna”

Jika engkau cinta maka dakwah adalah amal
membangun kejayaan ummat kapan saja dimana saja berada
yang bernilai adalah kerja bukan semata ilmu apalagi lamunan
Sasarannya adalah perbaikan dan perubahan, al ishlah wa taghyir
Dari diri pribadi, keluarga, masyarakat hingga negara
Bangun aktifitas secara tertib tuk mencapai kejayaan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah jihad
Sungguh-sungguh di medan perjuangan melawan kebatilan
Tinggikan kalimat Allah rendahkan ocehan syaitan durjana
Kerjakeras tak kenal lelah adalah rumusnya,
Tinggalkan kemalasan, lamban, dan berpangkutangan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah taat
Kepada Allah dan Rasul, Alqur-an dan Sunnahnya
serta orang-orang bertaqwa yang tertata
Taat adalah wujud syukurmu kepada hidayah Allah
karenanya nikmat akan bertambah melimpah penuh berkah

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tadhhiyah,
Bukti kesetiaan dan kesiapan memberi, pantang meminta
Bersedialah banyak kehilangan dengan sedikit menerima
Karena yang disisi Allah lebih mulia, sedang di sisimu fana belaka
Sedangkan tiap tetes keringat berpahala lipat ganda

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsabat,
Hati dan jiwa yang tegar walau banyak rintangan
Buah dari sabar meniti jalan, teguh dalam barisan
Istiqomah dalam perjuangan dengan kaki tak tergoyahkan
Berjalan lempang jauh dari penyimpangan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tajarrud
Ikhlas di setiap langkah menggapai satu tujuan
Padukan seluruh potensimu libatkan dalam jalan ini,
Engkau da’i sebelum apapun adanya engkau
Dakwah tugas utamamu sedang lainnya hanya selingan

Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsiqoh
Kepercayaan yang dilandasi iman suci penuh keyakinan
Kepada Allah, Rasul, Islam, Qiyadah dan Junudnya
Hilangkan keraguan dan pastikan kejujurannya…
Karena inilah kafilah kebenaran yang penuh berkah

Jika engkau cinta maka dakwah adalah ukhuwwah
Lekatnya ikatan hati berjalin dalam nilai-nilai persaudaraan
Bersaudaralah dengan muslimin sedunia, utamanya mukmin mujahidin
Lapang dada merupakan syarat terendahnya , itsar bentuk tertingginya
Dan Allah yang mengetahui menghimpun hati-hati para da’ie dalam cinta-Nya
berjumpa karena taat kepada-Nya
Melebur satu dalam dakwah ke jalan Allah,
saling berjanji untuk menolong syariat-Nya
Ketika Ikhwah Jatuh Cinta

Cinta adalah nikmat ALLAH yang besar selain keimanan dan kesehatan. Cinta harus mampu menyucikan akal, menyingkirkan kekhawatiran dan membangkitkan semangat.

CINTA juga harus bisa men dorong manusia untuk memelihara akhlak yang mulia, memperhatikan adab dan pergaulan yang baik. Cinta tak lain adalah wujud timbangan akal dan rasa. la adalah ciptaan yang mulia, sebagaimana yang dikatakan dalam syair, "Bukan karena dorongan nafsu kubangkitkan cinta tapi kulihat cinta itu adalah akhIak yang mulia. " Dalarn konteks ini cinta bisa menjadi sesuatu yang baik jika dialihkan semua kekuatan cintanya kepada Allah semata. Sehingga sang pencinta mencintai Allah dengan segenap hati, ruh dan raganya.
Di sini kita akan melihat bahwa ruh orang orang yang mabuk cinta di jalan Allah laksana titik titik embun yang lembut. la menyegarkan jiwa dan menguatkan raga. Cinta seperti inilah yang menjadi tujuan kebaikan manusia, puncak kenikmatan dan kesenangannya. "Tidak ada yang bisa dilihat (lebih indah oleh) orang-orang yang saling mencintai seperti halnya pernikahan" (HR. Ibnu Abbas)
Begitulah seharusnya ikhwah ketika ia merasakan kenikmatan jatuh cinta. Hatinya tidak memburu seperti kerbau gila. Membabi babi buta seperti kehilangan akal sehat. Seorang ikhwah ketika jatuh cinta, tidak berpikiran seperti pencuri yang berencana menjarah kehormatan milik orang lain. Seorang ikhwah tatkala jatuh cinta bukanlah penipu yang diliputi ketamakan dan kebusukan untuk mengambil kenikmatan tanpa mengikuti aturan.
Ketika ikhwah jatuh cinta, hatinya harus menjadi pengikut setia ajaran Sang Pemberi Cinta. Tidak ada tempat bagi unsur-unsur nafsu yang merusak. Semua harus melebur ke dalam ketaatan dan keinginan untuk beramal shalih. Sebab setiap urusan seorang ikhwah harus berbuah kebaikan. Termasuk soal cinta. la harus membuka jalan menuju keindahan surga. Bukan sebaliknya menjerumuskan kepada kenestapaan api membara.
Bersiap bukan bermimpi
Ketika ikhwah jatuh cinta, ia tidak berada dalam mesin mimpi yang membodohkan. Tak ubahnya seperti playstation atau ding dong. la tidak mengejar ambisi khayalan yang kosong. Sebongkah harapan cinta berbau busuk dari kebun masa depan yang tandus. Cinta, bagi seorang ikhwah, bukan sekedar bersentuhannya kulit badan. Bukan pula untuk merasakan nikmatnya mengenang bulu lembut di kening seorang perempuan yang meremang kala dikecup. Tidak juga hanya mengakui betapa sulitnya melupakan harum aroma tubuh kekasih yang mampu menyumbat kepala dan pikiran.
Ketika ikhwah jatuh cinta, ia sedang jatuh cinta pada keindahan Illahiyah. Bisa jadi itu hadir dalam wujud yang sedap dipandang mata. Mungkin juga berbentuk lantunan suara yang menyejukan hati. Keindahan itu bisa nyata dalam kekuatan kesetiaan untuk berjuang bersama. Dimana kesahajaan, ketaatan, kekuatan menolak kebatilan dan penjagaan keyakinan akan Allah menjadi hiasan hari hari yang panjang.
Ketika ikhwah jatuh cinta, ia harus beranjak dari egoisme pembangunan unsur diri kepada manfaat bagi umat. Ia mau tak mau harus menjadi unsur diri yang lebih berarti banyak ketimbang sebelurnnya. Sebab umat kelak membebankan kepadanya tanggung jawab pembangunan fondasi kekuatan masyarakat. Dimana keluarga adalah pilar utamanya. Suatu ketika hasil yang diharapkan akan menjadi buah manis bagi bangunan suatu bangsa. Sebuah masa depan yang lebih cerah yang dibangun dari generasi yang cerdas dan bertakwa. Harapan ini tidak lain akan keluar dari rahim cinta para ikhwah.
Kepada ikhwah yang sedang jatuh cinta, semoga tulisan ini menjadi inspirasi bagi cinta yang bermanfaat. Wallahu a'lam bish shawwab. 0 byk
Cinta Jangan Kau Pergi ……

Cinta.. Siapa yang tidak memilikinya? Orang mabuk kepayang saat dia datang. Namun dunia laksana sunyi saat dia pergI.

Di gombali Ikhwan gombal

MAWAR sebut saja demikian seorang aktifis muslimah sejati di kampusnya. Jam terbangnya lumayan tinggi dengan bobot kerja tak kalah banyak. Beberapa amanah dakwah pernah dijalaninya dengan baik.
Namun belakangan, sikapnya mulai berubah. Wajahnya sering terlihat murung dan aktifitasnya melemah. Seakan ada gunung menggantung di wajahnya.
Kondisi ini bukannya tidak dirasakan oleh rekan rekannya. Terutama pula Mbak Aisy, murrabiyah nya. Maka dalam sebuah private meeting, Mbak Aisy mencoba mengorek sebab kegundahan mad'unya itu.
“Saya.. Saya takut kehilangan dia, Mbak.. Sikapnya belakangan agak berubah ...” keluh Mawar takut takut setelah lama dibujuk oleh Mbak Aisy. Bulir airmata mulai menggenang di waiahnya.
“Kehilangan siapa?”, tanya Mbak Aisy membujuk.
Seakan petir menyambar dirasakan Mbak Aisy saat mad’u kesayangannya itu menyebut nama seorang ikhwan. Apalagi saat Mawar mengakui bahwa hubungan mereka sudah sede¬mikian jauh. Mata Mbak Aisy berkunang. Sejenak, ia tidak ingat apa apa lagi...

Mengejar kereta yang belum lewat

SMS itu datang lagi. Malam malam begini, Andi mulai hapal siapa pengirim SMS dini hari itu. Malas ia membuka hp nya. Namun rasa penasaran memaksanya membaca isi pesan singkat itu.
“Maaf akhi. Smoga antum gak bosan. Ana serius. Kalau anturn mau, ana bisa menunggu hingga anturn lulus.”
Andi terus beristighfar.. Entah, sudah berapa kali ‘pinangan’ ini mampir kepadanya. Akhwat itu, Andi tidak begitu mengenalnya. Entah darimana pula si akhwat tahu nomor hp nya. Entah darimana pula angin yang membawanya untuk berlaku seperti itu.
Malarn itu, Andi mencoba menjawab SMS itu. Sekalian memberikan taushiah bagi si akhwat.
"Mengapa anti mempermalukan diri anti sendiri? Tidak ahsan berbuat begitu. Cobalah meminta melalui murabbiyah anti.", balasnya mencoba bijak. Lima menit kemudian, hp itu berbunyi lagi. Sebuah balasan.
“Afwan jika tidak berkenan. Ana hanya ingin mendapat suami seorang ikhwan. Ana ingin sekali meminta dari murabbi. Tapi apa sopan, bila murabbi ana sendiri belum menikah? Ana tidak ingin lama menunggu seperti dirinya."
Andi tertegun... Dirinya mulai tersadar, “betul.. Masalah ini rupanya sudah cukup gawat.."

Tergoda...

Dodol, sebut saja demikian. Seorang ikhwan yang Allah jodohkan dengan seorang akhwat shalihah yang cukup cantik. Dodol tak henti bersyukur akan karunia Allah ini. Dan Allah-pun mengama¬nahkan mereka beberapa anak yang cantik dan sehat.
Sebagai keluarga muda, keuangan Dodol memang tidak mapan mapan amat. Berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain menjadi hal biasa bagi mereka. Merasa iba, mertua Dodol menawarkan mereka untuk tinggal dirumahnya. Karena sang mertua yang makin renta, memilih untuk tinggal di kampung sambil beristirahat menghirup udara segar pedesaan.
Jadilah, Dodol dan istrinya tinggal di rumah mertua yang cukup besar. Mereka tidak sendiri, disana juga tinggal Bunga, adik ipar Dodol yang masih duduk di bangku SMA.
Setiap pagi Dodol berangkat ke kantor dengan skuternya yang antik . Untuk menghemat ongkos, Bunga membonceng kakak ipamya itu sampai di sekolah. Ternyata, memang benar, syetan selalu ada diantara dua orang non muhrim.
Dodol mulai merasakan sensasi lain saat berboncengan. dengan Bunga. Dan hal ini bukannya dilawan, namun bahkan dinikmatinya. Fantasi¬nya mulai liar. Hingga suatu hari, saat Bunga lulus SMA dan memilih untuk melanjutkan kuliah di luar kota, Dodol meradang. Hatinya seakan remuk.
Kondisi keluarga Dodol makin tidak menentu. Sang istri tidak lagi menemukan cinta dalam diri Dodol. Entah, apa sebabnya, dia tidak tahu. Hingga terkuaklah kemudian, saat Dodol dengan nekadnya melakukan pelecehan terhadap Bunga saat berlibur kerumah itu. Tentu kemarahan sang istri nieledak. Apalagi Dodol dengan terang terangan justru mengutarakan niatnya untuk menceraikan istrinya dan akan menikahi Bungai!
Sikap Dodol yang kurang ajar ini membuat amarah keluarga besar istrinya meledak. Dodol diusir dari rumah itu dan sang istri mengajukan khulu'. Bunga? Tentu saja ia menolak pinangan kurang ajar abang iparnya itu.
Kasihan.. Bagai pungguk merindukan bulan, justru dia jatuh ke perigi!

Cinta mengalahkan segalanya

Sebutlah Husin, seorang ikhwan sederhana yang hidup dari berjualan apa saja. Suatu hari ia mendengar kondisi seorang akhwat, sebutlah Ananda, yang menderita leukimia stadium lanjut. Menurut dokter, jiwanya paling lama hanya dapat bertahan 6 bulan saja.
Husin terharu saat ia men¬dengar "permintaan terakhir" dari sang akhwat melalui ayahnya yang sesama jama'ah masjid setempat. Ananda hanya berharap satu, ia tidak ingin meninggal sebagai lajang. la berharap ada seorang ikhwan meminangya sebelum ajal memanggil.
Husin bergerak cepat. Dikontaknya semua ikhwan lajang yang dikenalnya untuk meminang Ananda. Namun semua menolak. Termasuk seorang ikhwan yang sebenarnya bersedia, namun ditentang oleh keluarga besarnya.
Mau tidak mau, Husinlah yang harus maju. "Bismillah! Allahu Akbar! Ya Allah, Engkau Maha Kuat sedang aku amat lemah. Engkau Maha Kaya sedang aku fidak punya apa apa. Engkau Maha Bijaksana sedang aku bodoh tak berdaya.. Maka, kuatkanlah aku, Ya Rabb ...... Husin maju meminang Ananda. Gadis anak orang kaya itu ternyata dengan rela menerima Husin yang hidup seadanya.
Delapan tahun berselang... Ternyata dokter hanya bisa meramal, namun Allah yang menentukan. Hingga kini, dengan segala suka dan duka mereka lalui, Husin dan Ananda masih menjalin kasih sayang dengan penuh kehangatan dan keindahan.

Epilog

Cinta. Pada siapa ia harus dilekatkan?
Seseorang memberikannya kepada sesuatu yang nisbi. Maka ia kecewa saat cinta itu tidak berbalas.
Seseorang memberikannya kepada sesuatu yang lemah. Maka ia kecewa saat ia kemudian menjadi hina tak berdaya.
Seseorang membenkannya kepada sesuatu yang miskin. Maka ia akan mendapati dirinya kehilangan semua yang pernah diraihnya.
Maka, tetaplah lurus menatap segala masalah di dunia fana ini. Termasuk saat bercinta. Bahwa saat kita memberikan cinta kepada Yang Haq, maka Dia tidak pernah menyia-¬nyiakan cinta itu. Saat kita memberikannya kepada Yang Maha Kuat, maka kita akan kokoh berdiri dihadapan semua tantangan. Dan saat kita memberikannya kepada Yang Maha Kaya, maka kita akan dapati bahwa setiap masalah akan begitu mudahnya dilalui.
Hiduplah dengan cinta. Cinta kepada Yang Maha Rahman, Maha Rahiim.
Wallahu a'lam. Red.


Kerendahan Hati dan Kepekaan Sosial
KH Rahmat Abdullah
Ketua MPP PK

Merendahlah, engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina

Alangkah nikmatnya dicintai dan mencintai, dipercaya dan mempercaya, Alangkah mengharukannya dukungan rakyat yang tanpa pamrih. Kadang mereka lebih galak membela kita daripada kita yang mereka bela. Rakyat bisa datang berjalan kaki bermil-mil, dalam panas dan haus. Untuk apa mereka begitu antusias ? Apa jaminan caleg dan jurkam yang berjanji memperjuangkan nasib mereka ?
Dukungan ini tak lepas dari realita yang mereka temukan dalam kehidupan para kader di pelbagai medan kehidupan. Yang komitmen kerakyatannya tak terragukan. Yang kepekaannya terhadap nasib mereka selalu hidup dan tajam. Yang tertempa oleh ke-ikhlasan dan kesabaran sehingga tak tergiur oleh iming-iming dunia, KKN atau berbagai tekanan, ancaman atau godaan. Kecuali bila Anda adalah sekian dari sekian kekecualian, penumpang gelap di gerbong atau lok keadilan.

Akan teruskah dukungan berdatangan, ataukah seperti penumpang bus yang silih berganti dan berbeda kepentingan atau turun dengan penuh umpatan penyesalan ? Demikian mengharukan dukungan datang. Tetapi awas, tiba-tiba ia dapat berubah menjadi taufan dan amuk balik yang mematikan.

Rakyat terlalu lelah untuk bisa memahami tokoh partai, kiayi muda atau aleg yang takut mengunjungi mereka, karena harus berhati-hati jangan sampai kemeja mahalnya ternoda debu di gubug mereka. Atau pantalonnya lusuh karena duduk diatas bangku reot di warung mereka. Atau nafasnya sesak duduk di rumah mereka yang kecil dan kurang udara. Atau jangan sampai mobil hasil dukungan rakyat tergores di gang sempit tempat domisili mereka. Rasanya terlalu mewah untuk bermimpi kapan pemimpin yang mereka dukung mengikrarkan (dan mem-buktikan), “Bila Anda perlu mengangkut keluarga yang sakit di tengah malam buta, silakan ketuk pintu dan kami akan antar ke rumah rawat”. Mereka tak punya cukup keberanian untuk menyeruak rumah baru para pemimpin yang sudah serba mewah. Mereka pun tak cukup mengerti bahwa ada (isteri) sesama kader juga saling menunggu, kalau-kalau tetangga yang sukses dengan dukungan kita mau ‘melempar’ mesin cuci butut atau kompor bekas yang sudah berganti dengan produk paling mutakhir, atau membeli tambahan buku saat anak-anak mereka berbelanja, untuk teman sekelas atau anak tetangga lainnya.

Kader Pra Pemilu

Banyak kader tahan berbincang berjam-jam dengan rakyat jelata, kuli bangunan dan pengangguran, saat ia masih sama-sama miskin. Ia bisa dengan lahap menenggak su-guhan teh panas di gelas mereka yang sederhana atau melahap sepotong dua tempe yang mereka goreng diatas perapian kayu bakar atau kompor minyak yang selalu me-nyimpan ancaman terselubung untuk meledak kapan-kapan waktu. Ia masih punya frekuensi dan gelombang setara untuk saling berbagi suka dan duka. Yang membedakan mereka mungkin satu, rakyat tak punya lidah yang cukup sistematis dan tidak punya saluran yang memadai untuk mengalirkan aspirasi dan sang kader punya ‘sistem’ untuk mengusung aspirasinya lewat saluran-saluran yang banyak dan lancar. Saluran itu adalah suara rakyat, keikhlasan mereka memilih dalam pemilu dan husnuzzhan yang luar biasa tingginya !

Apa yang diharapkan rakyat dari dukungan mereka ? Ingin jadi anggota parlemen ? No way ! Mau jadi pejabat tinggi di partai atau di birokrasi ? Tak mimpi, lah. Begitu tulus harapan mereka ; agar kebenaran dan keadilan bisa tegak di tangan para kader yang akrab dan beradab, bersih dari KKN dan fasih membacakan ayat-ayat kebenaran serta lantang mempidatokan gagasan-gagasan, janji-janji dan gugatan-gugatan. Mereka punya basic insting yang murni untuk mendukung siapa yang jujur, asal dekat, terjangkau dan meyakinkan.

Terlalu rumit mencerna teori-teori politik dan paradigma da’wah, kecuali para kader telah menyajikannya dengan pendekatan yang membumi. Otak mereka terlalu sarat beban hidup, sehingga pilihan yang mudah diingat ialah wajah yang sering datang pergi, lancung atau pendustakah mereka.

Disini demokrasi menjadi mesin culas orang-orang yang ingin meraih kekuasaan dengan cara-cara licik. Partai dominan membiarkan kemiskinan untuk pada saatnya di-tukar dengan suara murah di bilik pemilu. Partai mitos sengaja merawat kebodohan dan memupuknya dengan berbagai mimpi kewalian, kekeramatan dan kemenangan agar rakyat tetap mendukung dan tak menggunakan nikmat akal yang begitu mahal.

Rakyat Pasca Pemilu

Kecuali dari kelompok pengejar kedudukan – seperti bandar-bandar judi, bandar bakso atau pemulung yang menjadi aleg dengan membeli kursi itu dari partainya dengan tarif ratusan juta rupiah – selebihnya rakyat adalah rakyat. Yang nasib mereka terus bergulir. Naik turun dalam kehidupan. Dengan gubug yang semakin rapuh, tergusur atau menjadi gedung, anak yang semakin banyak tuntutan dan status yang selalu diatasnamakan.

Terkadang muncul penyimpangan pertumbuhan seksual anak-anak, karena kondisi rumah yang tak kondusif bagi pendidikan. Harta habis untuk menebus anak yang di tangkap polisi atau memasukkan anak-anak ke panti rehabilitasi mangsa narkoba.
Yang hanif tetap dengan harapan-harapan yang entah kapan dapat terwujud. Hal yang tak berubah dari mereka; dukungan.

Mereka sangat sederhana dan tidak mengada-ada. Bila mereka mulai kecewa terhadap partai-partai atau petinggi-petinggi partai atau apa saja komentar bisa sangat getir:
- “Ah, lehernya sudah tak bisa menoleh ke gubug kami lagi”
- “Kerongkongannya sudah tak bisa dilewati gorengan singkong kami”
- “Mereka orang-orang steril, alergi ketemu rakyat”
- “Ah, kita kan cuma tangga, sesudah mereka menginjak-injak punggung kami, ya sudah, tinggal senang-senang saja”
- “Dulu, waktu masih perlu dukungan suara untuk Pemilu mereka sering datang, sekarang 3 lebaran lewat, la salam wala kalam”
- “Dulu sih, kita masih berharap. Sekarang, apa bedanya dengan partai lain. Kadernya sombong-sombong”
- “Apa yang berubah, suaranya di parlemen: sepi, sepi, sepi ! Yang kita dengar ramai, itu klakson mobil mengkilapnya. Pakaian isterinya makin gemerlap. Mainan anaknya makin norak. Sudah itu mobil dinas dipakai nganter anak. Ngomongnya dulu Umar bin Abdul Aziz mematikan lampu karena tamunya tamu pribadi”


Kedekatan adalah Bahasa Paling Fasih

Tidak benar rakyat senang betul melihat para pemimpin lapar dan miskin. Ya, roman-tisme siapa saja bisa terpanggil oleh kebersahajaan dan kesederhanaan, terlebih bila itu keluar dari diri dan keluarga kader, pemimpin dan da’i.

Tidak perlu buang energi, berkerut wajah dan berbusa mulut untuk meredam suara-suara begini. Mereka hanya memerlukan keakraban, kebersahajaan dan kesederhanaan, lalu berbagai prasangka segera menguap.

Bukan pergelaran dendam kemiskinan, lagak pahlawan kesiangan atau pura-pura peduli. Mereka siap dibohongi asal nampak logis.

Tetapi itu mustahil, kecuali Anda memang dilahirkan untuk berbohong. Banyak orang panik menghadapi kritikan yang sebagiannya memang berbukti, sebagiannya harapan dan selebihnya ‘kenaifan’ analogi sejarah.

Bagaimana mungkin pemimpin disuruh pergi berkeliling negeri malam-malam untuk mengintai ibu-ibu yang menggodog batu, agar anak-anaknya tenang ?

Kini di siang hari mereka telah menggodog kucing, untuk ‘menenangkan’ mereka. Kadang naluri ‘birokrat’ bekerja dengan jawaban-jawaban oral yang sengit dan apologik, padahal jawabnya tersimpan dibalik kerendahan hati dan kepekaan sosial kader. []